Teknik Melatih Ayam Aduan

Blitar, 13 Juni 2013

Sebelum diturunkan ke arena, mental, fisik, dan teknik ayam aduan harus dipersiapkan untuk menghadapi pertarungan. Umur ideal ayam aduan yang diturunkan ke arena adalah lebih dari satu tahun. Ayam aduan bisa mulai dilatih pada umur delapan bulan. Pada umur delapan bulan fisik ayam sudah memenuhi syarat untuk dilatih sebagai ayam petarung.

Latihan sebaiknya tidak terlalu dipaksakan. Kalau dipaksakan, justru akan membuat ayam stres atau cedera. Latihan yang dilakukan disesuaikan dengan umur dan kemampuan ayam dan ditingkatkan porsinya dari hari ke hari. Porsi latihan yang sesuai adalah latihan yang dilakukan hingga ayam lelah. Ayam yang sudah lelah ditandai dengan gerakannya lamba seperti tidak ada semangat dan napas ngos-ngosan. Berikut ini adalah beberapa latihan yang perlu dilakukan untuk mencetak ayam aduan yang unggul.


1. Melatih Otot dan Stamina

Melatih otot dan stamina penting dilakukan sebelum ayam diturunkan ke arena. Otot dan stamina akan berpengaruh pada kekuatan pukulan, ketahanan menerima pukulan, dan ketahanan bertarung dalam waktu lama. Otot yang perlu dilatih adalah otot leher, sayap, dan kaki.

Melatih otot leher bertujuan agar oto leher lebih kuat dan lentur saat mencari kepala lawan untuk dipukul atau saat mengunci leher lawan. Latihan ini dilakukan dengan cara memutar leher ayam ke kiri dan ke kanan. Putaran yang dilakukan tidak terlalu cepat, tapi juga jangan terlalu lambat. 

Melatih otot sayap bertujuan agar sayap cukup kuat saat digunakan untuk memukul lawan. Latihan dilakukan dengan cara janturan. Ayam diangkat dengan kedua tangan, satu memegang dada dan satunya lagi memegang pangkal ekor. Tangan di dada dilepaskan dan tangan yang memegang pangkal ekor mengikuti jatuhnya ayam. 

Melatih otot kaki bertujuan agar ayam mempunyai kuda-kuda yang kuat sehingga tidak mudah didesak lawan saat bertarung. Latihan dilakukan dengan cara menekan punggung ayam ke bawah dan mendorongnya ke depan. 

Melatih sayap dan kaki dilakukan dengan cara mengangkat ayam dan sedikit melemparnya ke depan. Ayam akan terlihat seakan memberikan pukulan kaki ke lawan di depannya sambil mengpakkan sayap. Selain itu, bisa juga dilakukan dengan menceburkan ayam ke kolam. Ayam akan berenang menggunakan kaki dan mengepakkan sayapnya.

Latihan di atas sebaiknya dilakukan pagi dan sorenya digunakan untuk latihan stamina dan latihan tarung. Latihan stamina dapat dilakukan dengan latihan lari. Caranya adalah menyiapkan satu kurungan kecil dan satu kurungan yang lebih besar. Seekor ayam jantan dimasukkan ke dalam kurungan kecil dan ditutup dengan kurungan besar sehingga terdapat jarak 10-15 cm antara kurungan kecil dan kurungan besar. Ayam yang dilatih diletakkan di luar kurungan besar. Ayam akan mencoba bertarung dengan ayam yang ada di dalam kurungan. Adanya jarak antara kurungan kecil dan kurungan besar akan membuat ayam mencari celah untuk bertarung yang akhirnya membuatnya berlari dan melompat ke atas kurungan secara terus mnrus mengelilingi kurungan. Kaki ayam yang dilatih bisa diberi pemberat untuk menambah porsi latihan. Selain latihan lari, stamina ayam dapat dilatih dengan berenang dan sskali kepala ayam dimasukkan ke air untuk melatih napasnya. 

2. Melatih Langkah Kaki

Latihan langkah kaki bertujuan agar ayam aduan pandai mencari dan mengontrol posisi pada saat bertarung dengan cara mmutar badan dan kaki. Ayam tipe boxer harus mempunyai gerakan kaki yang baik agar bisa mengontrol posisi. Latihan dilakukan dengan cara memutar badan ayam ke kiri dan ke kanan bergantian. Badan ayam dipegang di sela badan dan sayap dengan dengan satu tangan dan diputar perlahan.

3. Melatih Bertarung

Latihan tarung harus dilakukan sejalan dengan latihan otot dan stamina. Latihan tarung berguna untuk membentuk mental pantang menyerah dan meningkatkan pengalaman bertarung. Semakin banyak latihan tarung, semakin baik. Meskipun demikian, juga harus melihat kondisi ayam. Ayam yang dilatih tarung harus dalam kondisi prima. Latihan tarung bisa dilakukan 4-7 hari sekali.

Latihan tarung dilakukan dengan lawna tanding dan dengan tahap-tahap tertentu. Latihan tarung pertama tidak perlu terlalu lama dan dilakukan dengan membungkus paruh dan taji., baik yang dilatih maupun lawan tandingnya, untuk menghindari luka. Paruh dan taji yang dibungkus akan membuat ayam sulit untuk mematuk dan melakukan pukulan. Ayam akan banyak mengeluarkan teknik dengan gerakan-gerakan cepat sehingga latihan ini juga baik untuk otot ayam. 

Latihan selanjutnya dilakukan dengan paruh ayam yang dilatih tidka dibungkus, tetapi taji masih dibungkus, sedangkan paruh dan taji lawan masih dibungkus. Latihan berikutnya lagi dilakukan dengan paruh dan taji ayam yang dilatih tidak dibungkus, tetapi paruh dan taji lawan masih dibungkus. Di tahap ini akan terlihat teknik dan kecepatan tarung ayam yang dilatih. Selain itu, mental dan kepercayaan diri akan meningkat karena dapat terus memukul lawan dengan mudah.

Tahap terakhir dilakukan dengan paruh lawan tidak dibungkus lagi, tetapi taji tetap dibungkus untuk menghindari luka serius. Di tahap ini ayam yang dilatih akan merasakan patukan-patukan dan pukulan dari lawan sehingga menimbulkan luka. Bekas luka yang timbul akan membuat kulit ayam semakin tebal sehingga tidak mudah terluka kembali. Latihan tersebut dilakukan beberapa kali dengan lawna tanding yang berbeda teknik tarungnya agar pengalaman yang diperoleh semakin banyak. Hal yang perku diingat adalah lawan tanding dipilihkan yang sepadan agar ayam yagn dilatih percaya diri dan mentalnya semakin kuat. Latihan tersebut dilakukan dengan durasi waktu yang semakin meningkat sehingga pada latihan tarung terakhir ayam mampu melakukan pertarungan selama durasi waktu pada pertarungan yang sebenarnya di arena.